by

Faktor Penyebab Pecandu Narkoba Sulit Sembuh

Beberapa waktu lalu pemain sinetron Rio Reifan kali ketiga ditangkap atas kasus penggunaan narkoba. Kasus tersebut makin menguatkan anggapan bila pengguna narkoba tak akan bisa menghentikan kecanduannya. Dalam kasus Rio Reifan, sabu yang nama teknisnya methamphetamine termasuk jenis narkoba yang membuat korbannya sulit berhenti.

Efek Kegembiraan Berlebihan

Fakta bahwa korban penyalahgunaan narkoba sulit berhenti dikarenakan narkoba memberi pengaruh pada bagian reward center di otak. Zat adiktif dalam sabu akan merangsang otak menghasilkan  dopamin. Nah, senyawa tersebut yang mengakibatkan efek dalam bentuk kegembiraan yang sangat. Namun, efek senang karena menggunakan narkoba itu akan menghilang dengan berjalannya waktu. Takaran narkoba yang sering dikonsumsi lama kelamaan tak dapat lagi menghasilkan efek gembira. Karena itu otak akan mengirimkan sinyal agar dosis ditambah lebih banyak agar menghasilkan efek itu.

Itulah yang mengakibatkan pengguna narkotika akan makin sulit mengakhiri kebiasaannya itu. Pecandu selalu meningkatkan dosis narkoba yang akan dikonsumsi namun tak memperoleh sensasi kegembiraan yang serupa. Dengan tidak disadari, konsentrasi dopamin dalam otak malah semakin menurun dengan meningkatnya dosis narkoba yang digunakan. Akibatnya, area saraf dengan tugas meneruskan sinyal pun akan rusak. Konsumsi narkoba untuk waktu yang lama pun menghasilkan efek buruk seperti : tindakan agresif dan depresi, tak bisa berpikir logis, penurunan kemampuan mengingat, badan gemetar dan kejang.

Penyebab Pengguna Narkoba Sulit Menghentikan Kebiasaannya

Ketergantungan narkoba lazimnya disembuhkan dengan rehabilitasi. Akan tetapi, rehabilitasi narkoba itu bukan metode yang mudah. Terdapat berbagai faktor yang bisa mengganggu hingga membuat program rehabilitasi narkoba gagal diantaranya :

  • Otak wajib “direset” : ketika pengguna kecanduan maka otaknya sudah diprogram agar menerima narkoba termasuk tak bereaksi ketika kecanduan. Pengguna narkoba susah menghentikan kebiasaannya itu sebab ia mesti melawan otaknya sendiri. Rehabilitasi ditujukan guna mengatur kembali otak para pengguna agar bisa mengatasi kecanduan secara sehat. Tahapan rehabilitasi itu tak mudah serta membutuhkan waktu panjang. Para pecandu mesti betul-betul disiplin dalam menyelesaikan tahapan rehabilitasi narkoba agar mendapatkan hasil maksimal.
  • Risiko gejala putus obat : gejala ini dialami lantaran otak sudah menyesuaikan diri dengan kehadiran narkoba. Indikasi yang timbul seperti perasaan cemas, capek, ngantuk, depresi, halusinasi, dan meningkatnya hasrat untuk mengkonsumsi narkoba. Pengguna narkoba akan susah berhenti sebab efek putus obat berimbas pada kesehatan tubuh dan mental. Para pengguna pada akhirnya malah tak ingin menjalani rehabilitasi dan kembali mengkonsumsi narkoba.
  • Dampak narkoba yang begitu merusak : di samping rasa gembira yang berlebihan, narkoba pun membuat pengguna begitu bersemangat, awas dengan berbagai hal di sekelilingnya, serta menghasilkan emosi positif. Namun itu cuma bertahan sebentar saja dengan efek yang cukup merusak. Itulah yang mengakibatkan pengguna narkoba susah berhenti. Tidak ada sesuatu yang lebih positif yang bisa menghadirkan efek sama. Kesudahannya, mereka pun kembali mengkonsumsi narkoba dengan takaran makin banyak yang artinya makin membahayakan tubuh.
  • Rehabilitasi tak bisa dijalankan asal-asalan : meskipun sebagai metode terbaik dalam menangani ketergantungan narkoba, rehabilitasi tak dapat dilaksanakan dengan sembarangan. Soalnya, efek putus obat bisa mengakibatkan gejala yang membahayakan sampai berujung pada kematian. Rehabilitasi harus ditangani ahli medis yang profesional. Hadirnya keluarga dan orang terdekat punya peran besar untuk mendukung proses penyembuhan. Pecandu dan tenaga medis tentu akan menghadapi berbagai hambatan dalam proses rehabilitasi ini. Proses tersebut pun boleh jadi mengakibatkan efek samping. Hanya saja, berkat tekad dan ketekunan, pengguna narkoba taraf parah sekalipun akan bisa disembuhkan.

News Feed