by

Acetylcysteine Obat Apa? Ini Penjelasan Kegunaan dan Aturan Pakainya

Terdapat berbagai macam obat keras yang penggunaannya tidak boleh sembarangan dan harus mengikuti petunjuk dari dokter. Salah satunya acetylcysteine yang kerap diresepkan dokter kepada penderita asma, PPOK, atau cystic fibrosis.

Lalu, sebetulnya acetylcysteine obat apa itu dan seperti apa kegunaannya dalam proses pengobatan penyakit? Berikut informasi lengkap mengenai acetylcysteine.

Pengertian dan Kegunaan Acetylcysteine

Acetylcysteine atau asetilsistein adalah obat yang berguna untuk mengencerkan dahak dengan berperan sebagai agen mukolitik. Obat ini bisa digunakan oleh orang dewasa dan anak-anak sesuai anjuran dokter.

Anda bisa mendapatkan acetylcysteine melalui aplikasi KlikDokter. Namun, sebelum menggunakan obat ini, terlebih dahulu Anda harus berkonsultasi kepada dokter terkait kondisi kesehatan dan riwayat penyakit lainnya. Download di sini untuk melakukan konsultasi online dengan mudah dari rumah melalui aplikasi KlikDokter.

Acetylcysteine berupa larutan asam amino alami yang efektif untuk membantu mengeluarkan lendir kental dan lengket atau dahak yang bisa mengganggu fungsi pernapasan. Lendir selalu diproduksi oleh tenggorokan dan paru-paru untuk melembabkan dan melindungi saluran pernapasan dari benda asing atau infeksi. Namun, peradangan di saluran pernapasan bisa membuat produksi lendir meningkat sehingga akan menyumbat saluran pernapasan dan terasa mengganjal.

Pemberian acetylcysteine bisa membantu mengencerkan lendir lengket yang seperti jeli. Acetylcysteine bekerja dengan cara bereaksi pada bahan kimia dahak dan mengubah tekstur lengket menjadi cair. Sehingga dahak bisa dikeluarkan dengan mudah saat batuk.

Karena acetylcysteine termasuk golongan obat keras, penggunaannya dalam pengobatan pun harus mengikuti arahan dari dokter. Biasanya, dokter akan meresepkan acetylcysteine kepada pasien yang menderita penyakit berikut ini:

  • Bronkitis
  • Asma
  • Pneumonia atau radang paru-paru
  • Empisema
  • Cystic fibrosis
  • Tuberkulosis

Pasien yang mengalami keracunan parasetamol juga biasanya akan diberi acetylcysteine oleh dokter. Pada kasus keracunan parasetamol, acetylcysteine akan meningkatkan kadar glutathione dan antioksidan untuk menetralisir senyawa beracun.

Lalu, meskipun acetylcysteine berperan sebagai obat batuk, obat keras ini tidak bisa digunakan untuk mengatasi batuk kering.

Peringatan Sebelum Mengonsumsi Acetylcysteine

Agar pengobatan menggunakan acetylcysteine berjalan aman, ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan sebelum mengonsumsi obat ini, yaitu:

  • Selalu beritahu dokter apabila Anda memiliki riwayat penyakit dan alergi terhadap Acetylcysteine atau obat-obatan tertentu.
  • Selalu beritahu dokter apabila Anda pernah atau sedang mengidap penyakit asma, ginjal, maag, tukak lambung, tekanan darah tinggi (hipertensi), varises esofagus, gagal jantung, atau sedang menjalani diet rendah garam.
  • Selalu beritahu dokter apabila Anda sedang merencanakan kehamilan, hamil, atau menyusui.

Dosis dan Aturan Pemakaian Acetylcysteine

Acetylcysteine tersedia dalam tiga bentuk berupa kapsul, inhalasi, dan cairan infus. Pemakaian obat ini harus selalu mengikuti resep dokter karena termasuk golongan obat keras. Anda tidak boleh menambah atau mengurangi dosis acetylcysteine yang telah diresepkan, sebab bisa memicu efek samping sangat berbahaya.

Umumnya, dosis dan aturan pemakaian acetylcysteine berdasarkan sediaan dan tujuan pengobatannya adalah sebagai berikut:

  1. Sediaan Kapsul

Tujuan: sebagai agen mukolitik

Untuk acetylcysteine berbentuk kapsul, dosis dan aturan pemakaiannya adalah:

  • Dewasa: 1 kapsul, 2 sampai 3 kali sehari
  • Anak usia 6 sampai 14 tahun: 1 kapsul, 2 kali sehari
  1. Sediaan Cairan Inhalasi

Tujuan: sebagai agen mukolitik

Sementara untuk acetylcysteine dalam bentuk cairan inhalasi, dosis dan aturan pemakaiannya adalah:

  • Dewasa

Sebagai larutan 10%: 6 sampai 10 ml, diberikan 3 hingga 4 kali sehari. Peningkatan dosis menjadi 2-20 ml bisa diberikan setiap 2 sampai 6 jam sesuai kebutuhan.

Sebagai larutan 20%: 3 sampai 5 ml, diberikan 3 sampai 4 kali sehari. Peningkatan dosisi menjadi 1-10 ml diberikan setiap 2 hingga 6 jam sesuai kebutuhan.

  • Anak-anak

Sama seperti dosis orang dewasa atau sesuai dengan anjuran dari dokter

  1. Sediaan Infus

Tujuan: untuk menangani keracunan parasetamol

Pasien yang keracunan parasetamol bisa diberikan acetylcysteine dengan dosis dan aturan pemakaian sebagai berikut:

  • Dewasa

Mulanya diberikan dosis 150 mg/kgBB (maksimal 16,5 g) dalam 200 ml pengencer selama lebih dari 1 jam. Lalu, disambung dengan dosis 50 mg/kgBB (maksimal 5,5 g) dalam pengencer 500 ml selama 4 jam. Bisa dilanjut lagi dengan dosis 100 mg/kgBB (maksimal 11 g) dalam 1 liter pengencer selama 16 jam ke depan.

  • Anak-anak

Anak-anak dengan berat badan 20-39 kg: mulanya diberikan dosis 150 mg/kgBB dalam 100 ml pengencer selama 1 jam. Lalu, disambung dengan dosis 50 mg/kgBB dalam pengencer 250 ml selama 4 jam. Bisa dilanjut lagi dengan dosis 100 mg/kgBB dalam 500 ml pengencer selama 16 jam.

Anak-anak dengan berat badan >40 kg: disamakan dengan dosis dewasa.

Cara Menggunakan Acetylcysteine

Acetylcysteine sediaan kapsul dikonsumsi sesudah makan. Untuk sediaan cairan inhalasi, Anda bisa menghirupnya dengan bantuan nebulizer atau mesin yang mengubah obat menjadi kabut sehingga bisa dihirup.

Interaksi dengan Obat Lain

Efek interaksi obat bisa terjadi apabila menggunakan acetylcysteine bersamaan dengan obat lain, antara lain:

  • Penggunaan bersama obat antitusif seperti codeine bisa meningkatkan risiko penumpukan dahak
  • Penggunaan bersama arang aktif bisa menurunkan efektivitas acetylcysteine
  • Meningkatnya efek nitrogliserin dalam melebarkan vasodilator atau pembuluh darah
  • Bisa menurunkan efektivitas obat antibiotik

Efek Samping Acetylcysteine

Ketahui pula efek samping yang mungkin muncul selama mengonsumsi acetylcysteine, yaitu:

  • Muntah
  • Mual
  • Berkeringat
  • Demam
  • Gatal
  • Nyeri sendi
  • Kemerahan
  • Gangguan fungsi hati
  • Henti napas

Segera larikan ke rumah sakit apabila mengalami gejala overdosis seperti diare, reaksi anafilaksis, muntah, dan mual.